KRITIK ESAI CERPEN SULASTRI DAN EMPAT LELAKI KARYA M. SHOIM ANWAR

 Karya sastra merupakan kesusastraan, karya tulis, yang jika dibandingkan dengan tulisan lain memiliki berbagai ciri keunggulan,seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya, drama, epik, dan lirik. Karya sastra itu sendiri berisi mengenai pengalaman yang biasanya dialami atau dilihat oleh pengarang itu sendiri. Karya sastra tersebut merupakan hasil dari kreativitas dan imajinasi pengarang.

Karya sastra yang tidak jauh dengan unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik yang mencakup tema, alur, latar, tokoh, penokohan, sudut pandang, gaya cerita, dan amanat. Cerpen Sulastri dan Empat Lelaki dengan tema kesengsaraan seorang perempuan di negri orang. Tokoh dalam cerpen ini adalah Sulastri sebagai tokoh perempuan yang merantau ke luar negri, seorang polisi, Markam sebagai suami Sulastri, Firaun sebagai majikan Sulastri diperantauan, dan Musa sebagai seorang penolong Sulastri dlam kejaran Firaun. Alur dalam cerpen ini menggunakan alur campuran dan latar tempat yang digamparkan pada cerpen ini di sekitar Laut Merah pada kutipan

Ini adalah Laut Merah. Ombak besar tak juga datang. Hanya semacam geligir bergerak di permukaan. Udara terasa panas. Butir-butir pasir digoreng matahari. Tak ada peneduh yang berarti. Pantai menyengat sepanjang garisnya. Dermaga yang menjorok ke tengah tampak sepi. Katrol di ujung dermaga juga masih berdiri kokoh dalam kehampaan. Tiang-tiang pengikat seperti tak pernah jenuh menanti kapal-kapal yang merapat dari negeri jauh melalui Lautan Hindia atau Terusan Suez, atau dari negeri di sebelah barat, mungkin Mesir, Sudan, Eritrea, atau angkutan domestik yang memilih jalur laut. Di bibir Laut Merah, dari Yaman hingga perbatasan Yordania, cuaca terasa membara.

Sedangkan latar waktu yang digambarkan oleh pengarang tidak terlalu jelas, tentunya pada siang hari. yang di tandai dengan kutipan

Cuaca makin panas. Laut Merah tampak berkilau-kilau memantulkan sinar matahari. Hamparan pasir mendidih, meliuk-liuk di permukannya. Sejenak angin bertiup tipis. Serpihan-serpihan sampah bergerak menjauhi pantai. 

Sudut pandang yang digunakan pengarang sudut pandang ketiga, dan gaya cerita pengarang gaya cerita sehari-hari.

Sedangkan unsur ekstrinsik seperti latar kondisi keagamaan, kebudayaan, sosial, ekonomi, dan nilai-nilai yang dianut masyarakat. Cerpen Sulastri dan Empat Lelaki Karya M. Shoim Anwar begitu banyak macam realitas kehidupan yang tertoreh dalam bentuk karya sastra ini. Baik dalam masalah sosial, politik, ekonomi, religi, dan lain-lain. Pengarang mengeksplorasi semuanya dalam bentuk karya sastra.

Cerpen Sulastri dan Empat Lelaki Karya M. Shoim Anwar, bentuk karya dimana pengarang menceritakan salah satu seorang perempuan yang bernama ‘Sulastri’ dan empat lelaki yang berbagai macam penokohannya. Cerpen Sulastri dan Empat Lelaki merupakan hasil karya sastra yang menggambarkan realita kehidupan masyarakat yang menggugah pembaca dengan berbagai problema kehidupan yang dialami Sulastri.

Sinopsis singkat cerpen Sulastri dan Empat Lelaki, perempuan yang bernama Sulastri termenung menatap laut Laut Merah. Dia telah naik dengan agak susah setelah bersembunyi pada bangunan patung-patungabstrak yang menyebar di wilayah pantai. Lalu Sulastri melihat ke bawah telah mendapati ada seorang polisi yang merintahnya untuk turun. Akan tetapi Sulastri menolak perintah dari polisi tersebut. Sulastri tahu, bahwa polisi itu tidak akan menangkapnya dan menyerahkan pada kedutaan tanpa imbalan. Dikarenakan pulang ke kampung halaman sendiri harus menyerahkan kumpulan uang setidaknya seribu real per orang. Cuaca makin panas. Sulastri teringat suaminya Markam yang di kampung halaman. Markam seorang lelaki bertapa yang menginginkan kehadiran benda-benda pusaka atau disebut menyukai sesuatu yang mistis, sehingga menerlantarkan Sulastri sebagai istrinya dan anak-anaknya. Bayangan tentang suami menghablur, Ketika muncul sosok lelaki Firaun sang penerkam. Firaun adalah majikan atau tuan Sulastri di perantauan. Sulastri yang secepatnya lari dan Firaut mengejarnya, sehingga Sulastri terhenyak di depan seorang lelaki setengah tua yang bernama Musa. Sulastri meminta tolong kepadanya, akan tetapi Musa pergi begitu saja. Begitupun polisi tadi tidak mau menolong Sulastri dari kejaran Firaun. Saat Sulastri oleng dan kehabisan nafas, lelaki yang disebut Musa tadi muncul secara tiba-tiba dan ia menolong Sulastri dari Firaun. Akhirnya Sulastri bersimpuh di pasir pantai. Ia bertanya pada diri sendiri, apakah ini hanya sebuah mimpi. Dipandangnya laut luas tak bertepi. Sulastri masih disini, di tepi laut Merah yang sepi, jauh dari anak-anak dan famili.

Cerpen Sulastri dan Empat Lelaki Karya M. Shoim Anwar, pengarang menggambarkan problema masing-masing setiap tokoh. Tokoh Sulastri mempunyai hubungan masalah dengan ekonomi, dimana suaminya hanya bertapa yang menunggu dengan datangnya benda-benda pustaka sehingga Sulastri merantau keluar negri untuk mencari penghasilan. Tokoh Sulastri disini mengalami ketidakadilan gender, ia selain menjadi seorang istri yang melayani suaminya juga mempunyai beban kerja mencari rezeki sendiri untuk kehidupan keluarganya. Bukti ada pada kutipan:

Di sana ada seorang lelaki bertapa menginginkan kehadiran benda-benda pusaka, membiarkan istri dan anak-anaknya jatuh bangun mempertahankan nyawa. Lelaki itu bernama Markam, suami Sulastri.

Dipandangnya laut luas tak bertepi. Sulastri masih di sini, di tepi Laut Merah yang sepi, jauh dari anak-anak dan famili. 

Tidak berbeda degan kehidupan yang realistis pada zaman sekarang. Banyak para suami yang menelantarkan istri dan anak-anaknya dengan alasan malas bekerja, maunya yang serba instan atau yang hanya ingin datang dengan sendirinya sehingga percaya akan adanya benda-benda pusaka yang katanya bisa menghidupi sehari-harinya. Seperti yang dilakukan tokoh Markam suami dari Sulastri. Pada kutipan

Di bibir Laut Merah, Sulastri  teringat ketika tercenung di tepi Bengawan Solo. Dari Desa Tegal Rejo dia menatap ke seberang sungai ke arah Desa Titik. Tampak ada kuburan yang dirimbuni pepohonan besar. Di sana ada seorang lelaki bertapa menginginkan kehadiran benda-benda pusaka, membiarkan istri dan anak-anaknya jatuh bangun mempertahankan nyawa. Lelaki itu bernama Markam, suami Sulastri. Suatu kali Markam pulang dengan berenang menyeberangi Bengawan Solo.

“Sudah dapat?” tanya Sulastri. Seperti biasa, Markam tak menjawab. Wajahnya tampak pucat. Kumis dan jenggotnya memanjang menutup sepasang bibir yang bungkam. Tetesan air masih jatuh dari pakainnya yang basah.

“Tanam tembakau di tepi bengawan makin tak berharga. Dipermainkan pabrik rokok. Aku tak sanggup begini terus. Apakah anak-anak akan kau beri makan keris dan tombak tua?”

Kesabaran Sulastri mengikis. Kali ini dia mengambil buku yang dulu sering dibaca dan diceritakan Markam. Buku yang telah kumal itu disodorkan ke muka suaminya hingga menyentuh ujung janggut.

“Kau bukan Siddhartha, sang pertapa Gotama dari Kerajaan Sakya yang pergi bertapa meninggalkan kemewahan. Istri dan anaknya ditinggal dengan harta berlimpah. Tapi kau meninggalkan kemelaratan untuk aku dan anak-anak!”

Markam hanya menjulingkan bola matanya, masuk ke dapur beberapa saat, mencari-cari sesuatu, kemudian pergi kembali menyeberangi bengawan. Di sini, seorang suami mengabdikan hidupnya untuk kuburan dan benda-benda pusaka yang tak kunjung tiba. Museum Trinil tempatnya bekerja telah ditinggalkan begitu saja. Ini berawal saat dia menuruni lembah berbatu di belakang museum itu. Dia menuju ke aliran Bengawan Solo yang curam. Dari sana dia menghanyutkan diri hingga ke Tegal Rejo. Pertapaan pun dimulai hingga kini.

Tokoh polisi, Firaun, dan Musa yang digambarkan pada cerpen Sulastri dan Empat Lalaki, mempunyai hubungan masalah sosial. Polisi yang digambarkan pengarang bahwa polisi pada negri tersebut tidak akan ditangkap lalu dipulangkan ke negrinya masing-masing tanpa imbalan. Karena setiap warga harus mengumpulkan uang sebesar seribu real baru bisa kembali ke tanah air. System politik disitu bermain sama dengan halnya di negara kita tanpa uang kita tidak bisa berbuat apa-apa. Bukti pada kutipan:

Sulastri tahu, polisi tak akan menangkapnya tanpa imbalan. Dia hanya menghindar sesaat dari tindakan fisik. Polisi tak mungkin menyerahkannya pada kedutaan untuk dideportasi. Seperti juga teman-teman senasib, Sulastri menggelandang. Kalau ingin ditangkap dan dideportasi, dia harus bergabung dengan beberapa teman, mengumpulkan uang setidaknya seribu real per orang, lalu diserahkan pada para perantara yang bekerja ala mafia. Para perantara inilah yang akan menghubungi polisi agar menangkap sekumpulan orang yang sudah diatur tempat dan waktunya. Dari seribu real per orang, konon polisi akan mendapat tujuh ratus real per orang, sisanya untuk para perantara. Polisi akan mengirim orang-orang tangkapan ini ke kedutaan dengan surat deportasi. Kedutaanlah yang berkewajiban menerbangkan mereka ke tanah air. Celakanya, ketika uang sudah diserahkan tapi penangkapan tak kunjung tiba. Lebih celaka lagi, para perantara ternyata berasal dari negeri Sulastri sendiri.

Berbeda dengan tokoh Firaun, dalam  cerpen Sulastri dan Empat Lalaki tokoh Firau menggambarkan seorang majikan yang kejam. System kontrak kerja masih menggunakan system pada masa jahiliyyah. Siapapun yang dibayar oleh tuannya maka dia adalah budak dari tuan tersebut. Oleh karena itu, Firaun memerlakukan Sulastri dengan sesuka hatinya. Dalam bukti kutipan:

“Tak usah takut hai, Budak!” kata Firaun.

“Aku bukan budak.…”

“Ooo…siapa yang telah membayar untuk membebaskanmu? Semua adalah milikku. Semua adalah aku!”

Sulastri tak menjawab. Dia terus melangkah mundur sambil memulihkan diri. Sementara Firaun menggerak-gerakkan lehernya untuk menghilangkan rasa penat. Sulastri dengan cepat berbalik arah dan berlari.

“Hai, jangan berlari! Kau datang ke sini untuk menghambakan diri. Kau adalah budak milik tuanmu. Tunduklah ke hadapanku!”

Tokoh Musa, seseorang yang menolong Sulastri ketika dalam darurat. Musa yang diceritakan pada cerpen ini seperti kisah dari nabi Musa dan Firau dulu.

Saat Sulastri oleng dan kehabisan nafas, lelaki yang tadi dipanggil sebagai Musa tiba-tiba muncul lagi di hadapannya. Tapi kali ini hadir sebagai siluet yang samar. Sulastri meraih dan memeluknya sebagai jalan terakhir untuk menyelamatkan diri dari kejaran Firaun. Saat itu juga Sulastri merasakan ada benda di genggamannya. Makin nyata dan nyata. Benda itu adalah tongkat. Sulastri memegang kuat-kuat dengan kedua tangannya.

            Jadi dalam cerpen Sulastri dan Empat Lelaki, tokoh Sulastri, polisi, Markam, Firau, dan Musa memiliki nilai, simbolik, dan hubungan masalah tersendiri tentunya mempunyai hubungan terhadap kehidupan realita sehari-hari. Terima kasih ;)

Komentar