Cerpen
“Sisik Naga Di Jari Manis Gus Usup” karya M. Shoim Anwar, yang diunggah oleh
penulis di laman web (https://basabasi.co/sisik-naga-di-jari-manis-gus-usup/
) tersebut, penulis dalam cerpen “Sisik Naga Di Jari Manis Gus Usup”
menggunakan bahasa sederhana sehari-hari yang mudah dipahami oleh pembaca. Pengarang
membuat kata-kata tersusun rapi, alur ceritanya juga jelas, memiliki banyak
dialog, dan menariknya pengarang menyisipkan humor, sehingga pembaca tidak
merasa bosan dalam membacanya. Pada kalimat:
“Kalau
pegang kamu nggak bisa kencing dan berak,” kata Gus Usup.
“Masak, Gus!?” Salah satu dari mereka, Dulah
namanya, terjingkat.
“Lo, beneran. Nggak bohong ini,” ujar Gus Usup
kalem sambil tersenyum.
“Demi Allah, Gus?”
“Demi Allah,” Gus Usup manggut-manggut.
Mendengar
jawaban Gus Usup tiba-tiba semuanya terdiam. Tergambar perasaan takut pada
wajah mereka. Mereka agak menjauh. Tapi Dulah kembali nyeletuk, “Musyrik itu,
Gus. Masak pegang aja nggak bisa kencing dan berak?”
“Kamu
nggak percaya?” tanya Gus Usup sambil meletakkan sebuah kartu remi ke deretan
di depannya.
“Masak?”
“Buktikan
saja kalau berani,” Gus Usup tersenyum sambil mengulurkan lengan kirinya,
sementara kartu reminya dipindah ke tangan kanan. “Kalau tidak terbukti nanti
saya beri uang kamu.”
“Saya
berani, Gus. Bismillaahir rahmaanir rahiim.” Dulah pun menyentuhkan ujung
telunjuknya ke akik Gus Usup, agak sedikit gemetar tapi berani.
“Sudah?”
tanya Gus Usup.
“Sudah,
Gus. Nggak apa-apa kan?”
“Ayo,
sambil memegang sekarang kamu kencing dan berak di sini!”
“Wah
ya nggak mau, Gus….”
“Nggak
bisa kan? Tadi saya bilang kalau pegang. Kalau ke WC berarti sudah tidak
pegang.”
Semua
yang hadir tertawa.
Dalam
cerpen “Sisik Naga Di Jari Manis Gus Usup” penulis menggambarkan seorang anak
yang terhormat, anak dari salah satu pengasuh pondok yang biasanya disebut Gus
Usup. Gus Usup yang dikenal ramah dan akrab terhadap warga kampungnya. Salah
satu yang menjadi ketertarikan orang kampungnya adalah cincin akik bermotif
sisik naga yang melingkari jari manisnya. Saat bermain ataupun ada hajatan yang
menjadi topik pembicaraan oleh warga yaitu cicin Gus Usup, warga menyebutnya
cincin pembawa kemenangan dan keberuntungan.
Kekurangan
dalam cerpen tersebut ada kata yang menggunakan bahasa daerah yaitu Jawa,
penulis tidak menjelaskan atau memberi arti sehingga pembaca hanya bisa
menerka-nerka dengan bahasa yang dimaksud dalam cerpen “Sisik Naga Di Jari
Manis Gus Usup.”
Komentar
Posting Komentar