PERINGATAN
Karya
Wiji Thukul
Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar
mendengar
Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gasat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa
alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!
KRITIK ESAI DI ATAS
Wiji Thukul merupakan penyair Indonesia asal kelahiran
Solo. Wiji Thukul menulis puisi digunakan sebagai media kritik, tentunya
terhadap pemerintah. Jika Chairil Anwar mengatakan dirinya sebagai binatang
jalang, lain halnya dengan Wiji Thukul. Dia menggambarkan dirinya sebagai
peluru.
Puisi adalah peluru bagi Wiji Thukul sebagai media
untuk melawan kecamnya masa Orde Baru dulu. Dimana pada saat itu ruang gerak
masyarakat memang sangat dibatasi. Pada zaman itu, demokrasi tidak berfungsi
dan tidak dilaksanakan sama sekali. Sehingga, banyak menimbulkan permasalahan
politik.
Salah satu diantara puisi Wiji Thukul yang termasuk
mengeritik pemerintah adalah Peringatan. Puisi Peringatan
mempunyai makna dari segi judul dan setiap baris yang disampaikan oleh penyair.
Dalam puisi Peringatan, penyair menjelaskan
bahwa pemerintah dikritik agar selalu peka terhadap rakyatnya. Peka ketika rakyat
tak lagi mendengarkan suara penguasa di atas dan peka ketika rakyat berteriak
meminta apa yang harus menjadi haknya. Namun, Ketika penguasa tak lagi
mendengarkan suara rakyat, suara kritikan diancam, dan suara penguasa selalu
benar, maka penyair meneriakkan pada rakyat untuk penguasa dengan kata “LAWAN.”
DI
BAWAH SELIMUT KEDAMAIAN PALSU
Apa guna punya ilmu
Kalau hanya untuk mengibuli
Apa gunanya banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu
Di mana-mana moncong senjata
Berdiri gagah
Kongkalikong
Dengan kaum cukong
Di desa-desa
Rakyat dipaksa
Menjual tanah
Tapi, tapi, tapi, tapi
Dengan harga murah
Apa guna banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu
KRITIK ESAI DI ATAS
Wiji Thukul melalui salah satu karyanya yang berjudul
“Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu” ini Ia juga menyampaikan beberapa bait puisi
yang tidak berbeda dengan puisi di atas “Peringatan” yang tujuannya untuk
menyindir para penguasa dan aparat pemerintahan yang dzalim pada saat itu.
Puisi “Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu” memiliki
makna bahwa sejatinya seseorang yang berilmu, banyak membaca, dan berdiri gagah.
Akan tetapi ilmu yang dimilikinya tidak diamalkan sesuai dengan kegunaanya. Banya
membaca buku namun selalu bungkam dan tidak bisa menegakkan kebenaran itu juga
hanyalah sebuah kesia-siaan.
Puisi tersebut menyampaikan sebuah sindiran kepada
sebagian penguasa pemerintahan yang masih suka berkomplot dengan orang-orang
licik dengan tujuan yang tidak baik atau hanya menguntungkan dirinya sendiri.
Sedangkan akibatnya adalah rakyat-rakyat yang tertindas dan tidak mendapat
keadilan.
Puisi ini memiliki makna yang sangat mendalam sesuai
dengan kenyataan yang sedang kita alami saat ini. Wiji Thukul menyampaikan
pesan melalui puisi “Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu” yaitu agar kita selalu
mengamalkan atau memanfaatkan ilmu yang kita dapat pada hal-hal yang baik dan
tidak merugikan orang lain. Kita harus menjadi orang yang bijak dalam
memanfaatkan ilmu yang kita dapat
Komentar
Posting Komentar