KRITIK ESAI LIMA KUMPULAN CERPEN KARYA M. SHOIM ANWAR

Karya sastra merupakan kesusastraan, karya tulis, yang jika dibandingkan dengan tulisan lain memiliki berbagai ciri keunggulan,seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya, drama, epik, dan lirik. Karya sastra itu sendiri berisi mengenai pengalaman yang biasanya dialami atau dilihat oleh pengarang itu sendiri. Karya sastra tersebut merupakan hasil dari kreativitas dan imajinasi pengarang. Karya sastra yang tidak jauh dengan unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik yang mencakup tema, alur, latar, tokoh, penokohan, sudut pandang, gaya cerita, dan amanat. Salah satu karya sastra yakni cerita pendek yang dikenal dengan cerpen.

Cerpen adalah karya sastra cerita pendek yang bersifat fiktif dan mengisahkan tentang suatu permasalahan, yang dialami oleh satu tokoh secara ringkas. Mulai dari pengenalan sampai akhir dari permasalahan yang dialami oleh tokoh tersebut.

Kritik esai kali ini akan membahas beberapa cerpen karya M. Shoim Anwar, yang akan digabung menjadi perpaduan antara cerpen satu dengan cerpen yang lain. Sehingga menjadi satu perpaduan dalam tema umum yang terdapat pada semua cerpen tersebut. Lima cerpen karya M. Shoim Anwar yang akan dibahas dalam kritik esai ini, yaitu: Syorot Mata Syaila, Sepatu Jinjit Aryanti, Bamby dan Perempuan Berselendang Baby Blue, Tahi Lalat, dan Jangan ke Istana Anakku.

Dari lima cerpen di atas sudut masalahnya sama yaitu tentang permasalahan sosial dalam bermasyarakat. Cerpen-cerpen tersebut lebih menyudutkan permasalahannya terhadap seorang perempuan. Sudut pandang tokoh yang diambil dari ke lima cerpen tersebut kebanyakan sudut pandang pertama (aku) dan sudut pandang kedua yang banyak ditokohi seorang perempuan. Seperti kutipan.

Aku duduk di deretan kursi menghadap ke Sky Bar dan gate 7-8. Lorong menuju ke toilet ada di depan sana. Perempuan itu mulanya mondar-mandir mencari tempat duduk sambil menyeret koper kecil warna cokelat. Sudah beberapa kali dia lewat sambil melihat tempat duduk di dekatku. Kebetulan kursi di sebelah kiriku agak longgar. Aku merasa harus berbagi. Akhirnya aku mengingsut dan mempersilakannya duduk. Awalnya aku merasa ragu. Maklum di belahan dunia Arab antara laki-laki dan perempuan umumnya dipisahkan dengan ketat. Tapi ini di Abu Dhabi, bukan Kota Suci Makkah atau Madinah yang memerlukan waktu sekitar dua jam dengan pesawat ke sana. Meski awalnya aku tak yakin, perempuan itu akhirnya duduk di sebelahku. Aku membantu menata koper di depannya. (Syorot Mata Syaila).

Aryanti masih sibuk membuka-buka koper. Entah apa yang dicari. Sepatu jinjitnya yang tadi dicoba termangu di lantai depan pintu. Karena posisinya membungkuk, rok perempuan itu tertarik ke atas sehingga paha belakangnya lebih jelas terlihat. Aku menatapnya beberapa saat. Ada desir mengalir di dadaku. Udara di kamar mulai terasa dingin. ’’Saya mandi dulu, Bapak,’’ kata Aryanti sambil beranjak. Rambutnya panjang tergerai luruh ke dada. ’’Mandi bareng aja,” aku menengok ke arahnya. Handuk biru muda sudah tercangklong di pundak. Sementara tangan kirinya mengenggam pakaian dalam warna krem. ’’Jangan, ah,” jawabnya manja. Dia melangkah ke mulut pintu. (Sepatu Jinjit Aryanti).

Tak heranlah saya kalau perempuan muda itu lengket di pelukan Bambi. Sudah bukan rahasia lagi kalau perempuan muda belia yang suka keluar malam menjalin hubungan dengan lelaki berumur. Bagi sang perempuan, umur dan kegendutan Bambi mungkin tak masalah. Yang penting uang dan kesenangan dapat diperoleh dengan mudah. Kesadaran utuh mungkin telah ada pada diri perempuan itu bahwa Bambi memang harus diperas hartanya dan digunakan perempuan itu untuk mempercantik penampilan guna bersenang-senang dengan para lelaki lain yang lebih muda.

Perempuan muda itu mungkin tidak hanya minta behel, selendang baju, kaus, celana, tas, sandal, sepatu, perhiasan, telepon seluler, benda-benda kesukaannya, makan-makan, tapi juga pelesiran ke tempat-tempat yang jauh dengan naik pesawat dan tidur di hotel berbintang. Dengan bermain dua muka, mungkin juga lebih, perempuan muda itu ingin mempertunjukkan penampilan glamornya di hadapan teman-temannya pula. (Bamby dan Perempuan Berselendang Baby Blue).

Akhirnya orang-orang saling memberi kode ketika berpapasan. Bila mereka sedang bergerombol, dan salah satu sudah memberi kode, yang lain mengacungkan jempolnya sebagai tanda mengerti. Bagi yang kurang yakin, pertanyaan akan langsung diteriakkan saat aku lewat. (Tahi Lalat).

Aku ingin membangunkan gubuk untukmu, anakku. Bukan istana, sebab pada istana yang dikelilingi sungai-sungai buaya, pagar tinggi dengan kawat berduri baja, kau terpenjara dengan dijaga anjing-anjing yang siap memangsa. Di pintu gerbangnya para penjaga yang tak ramah selalu mencurigai tamu yang hendak mempersembahkan sekuntum bunga. Lalu kapankah kau dapat memadu rasa? Bunga-bunga yang kau terima bukan dari tangan pertama. Tak ada senyum dari bibir yang rekah. Hanya pesan yang hampa, sebab manisnya telah disunat para penjaga dan mahkotanya telah diganti plastik berkesumba. (Jangan Ke Istana Anakku)

Kenapa harus tentang keperempuanan? Kenapa yang diceritakan dari cerpen-cerpen di atas permasalahannya bersumber dari perempuan? Alasannya karena setiap pemikiran seseorang telah didoktrin dari potongan hadist bahwa yang masuk dalam neraka paling banyak adalah perempuan. Juga kita sudah didoktrin apabila perempuan adalah makhluk penggoda, dicontohkan ketika seorang laki-laki yang sukses ada perempuan yang baik. Sedangkan ketika ada seorang laki-laki yang menyimpang dari jalur yang benar, maka perempuannya yang harus ditanyakan. Nilai terhadap perempuan selalu rendah dan dipandang sebelah mata. Seperti yang diceritakan dalam lima cerpen di atas, semua menggambarkan perempuan sangat rendah, perempuan yang hanya bias dijadikan pemuas seksual seorang laki-laki.

Terlepas dari permasalahan perempuan, lima cerpen di atas juga membicarakan tentang politik. Dimana tentang ketidakadilan seorang penguasa dan ketidakadilan hukuman yang diputuskan. Semua cerpen di atas menceritakan tentang ketidakadilan dalam politik. Seperti kutipan:

Sekarang aku berpikir persoalanku sendiri. Aku berharap penerbanganku terlambat, bila perlu ditunda dalam waktu yang panjang. Alasan melaksanakan ibadah ke Tanah Suci dan ziarah ke makam nabi-nabi sudah kulalui. Semua itu aku lakukan untuk memperlambat proses hukum sambil mencari terobosan lain, termasuk sengaja tidak hadir saat dipanggil untuk diperiksa penyidik.

Perkara ini tidak melibatkan aku seorang diri. Seluruh keluarga, istri dan anak-anak, juga diperiksa karena diduga teraliri dana dalam bentuk kepemilikan saham perusahaan. Si alan, seorang teman anggota parlemen yang menjadi terdakwa “menyanyi” saat di persidangan, termasuk mengungkap liku-liku pemenangan tender yang telah kami skenariokan untuk perusahaan keluarga. Pengakuan itu bahkan telah masuk dalam berita acara peme riksaan alias BAP. Jumlah kerugian uang negara juga telah disebut.

Ketika beberapa kali disidik oleh pihak kepolisian, aku dapat bocoran bahwa statusku yang semula saksi sudah ditingkatkan menjadi tersangka. Ada yang mengatur agar statusku tidak bocor ke publik. Pada saat itulah aku dengan cepat melarikan diri keluar negeri. Tentu saja dengan beberapa skenario yang sudah kupersiapkan sejak kasusku mulai diungkap. Semua keluarga sudah diskenario agar satu suara, bila perlu bungkam.

Nanti, ketika berkas perkaraku dilimpahkan ke kejaksaan untuk dibuat tuntutan, aku dapat informasi bahwa statusku sebagai tersangka mau tak mau akan terbuka di kejaksaan. Pun sudah ada yang memberi tahu bahwa kejaksaan akan meminta pihak imigrasi untuk mencekal aku pergi ke luar negeri. Dan benar, ketika berita ramai tersiar bahwa aku dicekal, posisiku sudah di luar negeri. Inilah enaknya punya jaringan khusus di lembaga peradilan. Aku merasa sedikit beruntung kasusku ditangani mereka. Andai yang menangani KPK, mungkin aku sudah meringkuk di sel.

Bagiku, pergi melakukan ibadah ke Tanah Suci jauh lebih baik daripada pura-pura sakit ketika diproses secara hukum. Aku toh berdoa sungguh-sungguh. Berita-berita dari tanah air menyatakan bahwa aku buron sehingga beberapa lembaga antikorupsi ikut menempel posterku di tempat-tempat umum. Tapi biarlah orang lain mau bilang apa. Setiap orang punya cara sendiri-sendiri. Termasuk minta diselimuti dan diinfus di rumah sakit kayak orang mau mati. Pura-pura kecelakaan nabrak tiang listrik juga biarlah. Pura-pura mencret akut saat sidang juga ada. (Syorot Mata Syaila).

Aku adalah bagian dari persekongkolan itu. Tapi aku dalam posisi tak berdaya karena perintah atasan yang tak boleh ditolak. Aku tetaplah seorang manusia yang mempunyai pikiran dan rasa yang waras. Aryanti tentu juga demikian. Dia dalam posisi tak berdaya. Memang aku dan Aryanti adalah bagian dari pelaku persekongkolan itu.

Tapi, dan inilah sebenarnya, kami berdua tidak lain adalah objek. Apa yang kami lakukan bukanlah untuk kepentingan kami sendiri. Yang lebih menderita tentu Aryanti karena tak boleh berkomunikasi dengan keluarga dan teman-temannya. Jalur komunikasinya telah disadap dengan sempurna. Dalam tubuhnya seperti telah ditanami microchip sehingga pergerakannya bisa dipantau melalui layar monitor.

Ketika terjadi kematian orang yang sangat dekat dengannya, Aryanti tentu terpukul. Lalu rasa sedihnya yang timbul-tenggelam sebagai manusia normal adalah manusiawi. Barangkali, apa pun yang terjadi, hidup harus tetap punya harapan. Ketika dia berangsur mengembalikan keceriaannya juga dapat aku terima karena yang sudah tiada tak mungkin dihidupkan kembali. Dalam kondisi demikian lambat laun dalam diriku ada rasa ingin memeluk Aryanti dengan segala rasa. (Sepatu Jinjit Aryanti).

Dengan setengah memaksa, pihak sekuriti berusaha melepaskan tangan saya. Dia mintaagar saya tidak menciptakan keributan. Kedua tangan saya ditepuk-tepuk. Lengan Bambi juga berusaha dilepaskan. Kerumunan terjadi dengan cepat. Beberapa orang membantu melepaskan cengkeraman saya. Akhirnya lengan Bambi benar-benar lepas. Dia dengan cepat menggeblas pergi. Sekuriti berusaha mendinginkan saya. Saya memilih masuk ke toilet. Brengsek! 

Barangkali saja banyak yang simpat mendengar kasus saya.  Begitu membuka pintu toilet, Devi sudah menunggu saya di ruang khusus wanita itu. Ternyata Devira tahu sepak terjang Bambi. Mereka meman tinggal di kawasan yang sama. Bambi ternyata suka membakar-bakar orang agar berperkara di pengadilan, terutama yang terkait perkara perdata. Mereka yang posisinya kuat dan dinilai akan menang didekati oleh Bambi, dirayu dan dimenangkan di pengadilan. Tentu saja, kata Devira, tidak ada yang gratis. Yang dimintai uang itulah yang dimenangkan.

“Itu persis kasusku. Tapi mengapa aku tidak dimenangkan?” saya bertanya pada Devira.

“Ibu tahu,” Devira meyakinkan, “perempun yang diajak berdansa tadi itu adalah anak dari almarhum Pak Madali, yang Ibu gugat.”

“Namanya Miske, katanya.”

“Bukan. Nama aslinya Kiara. Sebagai ahli waris, dia tak pernah datang ke pengadilan. Hanya diwakili oleh kuasa hukumnya. Ibu dipermainkan Pak Bambi demi mendapatkan Kiara.”

“Aku memang pernah mendengar nama itu. Setan semuanya!” (Bamby dan Perempuan Berselendang Baby Blue).

Jujur kukatakan, Pak Lurah juga sering menggunakan cara-cara kotor. Selama menjabat, tidak sedikit warga yang kehilangan sawah ladang dan berganti dengan perumahan mewah. Warga yang tinggal di tempat strategis, melalui perangkat desa Pak Bayan, dirayu untuk menjual tanahnya dengan harga yang lumayan mahal. Begitu tanah-tanah yang strategis itu terlepas dari pemiliknya, Pak Lurah semakin gencar membujuk yang lain dengan cara memanggilnya ke kantor kelurahan. (Tahi Lalat).

Aku ingin membangunkan gubuk untukmu, Anakku. Bukan istana, sebab pada istana anak-anakmu akan digembala oleh para abdi dan penjaga, dicekoki kisah raja-raja antah berantah, dimanja dengan senyum pura-pura, dipisah dari teman sepermainan dengan alasan keturunan darah, mainannya kuda kayu tembaga, dijaga agar tak mangayuh sempurna, karena takut anak-anakmu terjatuh saat bersuka. Tangan anak-anakmu tak boleh menyentuh tanah, akibatnya mudah akit karena tak punya kekebalan alamiah. Aku ingin membangunkan gubuk untukmu, Anakku. Bukan istana.

Seperti biasa, istana tetap tak ramah. Para penjaga juga tetap tak boleh kumpul bersama. Kami dipisah sendiri-sendiri. Tidur sendiri-sendiri. Makan sendiri-sendiri. Berkumpul hanya ketika dikomando di lapangan terbuka untuk urusan jaga semata. Komunikasi antar penjaga hanya ketika berpapasan, atau mencuri kesempatan ketika dikumpulkan. (Jangan Ke Istana Anakku)

 

Komentar