SASTRA INTERDISIPLINER DALAM PEMBELAJARAN


Manusia pada dasarnya adalah homo fabulans atau makhluk bercerita atau yang suka bercerita. Kemudian hasil dari penceritaannya menjadi komunikasi. Lalu, komunikasi yang ditata dengan baik yang menghasilkan sesuatu yang indah disebut sebagai bersastra. Sastra tidak lepas dengan nilai-nilai pengalaman hidup manusia yang didokumentasikan menjadi suatu karya. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi membuat pengaruh yang sangat pesat dalam perkembangan ilmu pengetahuan khususnya kajian kesastraan. Sebagai sebuah kajian, karya sastra tidak bisa difokuskan hanya pada satu dimensi pendekatan saja. Karya sastra merupakan wujud dari imajinasi pengarang yang dilatarbelakangi dan dipengaruhi oleh kehidupunnya sehari-hari, baik dari pengalaman, pendidikan, dan kehidupan sosial masyarakat di lingkungannya. Tentu dalam alur cerita yang disajikan dalam suatu karya sastra tidak mungkin hanya menggunakan satu kajian atau ilu saja, akan tetapi mengandung sastra interdisipliner di dalamnya. Perkembangan pendekatan yang terus mengalami dinamika pada gilirannya mencipta pendekatan yang bukan lagi tunggal atau monodisiplin, tetapi sudah interdisiplin. Interdisipliner (interdisciplinary) adalah interaksi intensif antarsatu atau lebih disiplin, baik yang langsung berhubungan maupun yang tidak, melalui program-program penelitian, dengan tujuan melakukan integrasi konsep, metode, dan analisis. Secara definitif interdisiplin menyarankan penelitian dengan melibatkan dua bidang ilmu atau lebih. Dikaitkan dengan jangkauan, model, dan batasan-batasan lain yang ditentukan dalam analisis, maka jelas interdisiplin termasuk penelitian ekstrinsik, sebagai makro sastra.

Jika dikatakan bahwa karya sastra merupakan fenomena kehidupan manusia, yang secara garis besar menyangkut: (a) persoalan manusia dengan dirinya sendiri, (b) hubungan manusia dengan manusia lain dalam lingkup sosial termasuk dalam hubungannya dengan lingkungan alam, dan (c) hubungan manusia dengan Tuhannya (Nurgiyantoro, l998:323), maka banyak sisi kehidupan manusia yang (dapat) dicakup oleh karya sastra, misalnya, kesedihan, kegelisahan, kekecewaan, kemarahan, keheranan, protes, dan pikiran atau opini. dan lingkungan, tatanan sosial, tatanan politik dan sejenisnya. Dengan demikian, karya sastra identik (walau tidak persis sama) dengan berita di koran, laporan penelitian antropologi, sosiologi, psikologi dan sejarah. Sebab, karya sastra dan karya non sastra tersebut berbicara tentang manusia, kehidupan manusia, peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengannya, tempat dan waktunya. Hal yang membedakan adalah cara menyatakannya dan asumsi pembaca terhadap jenis tulisan tersebut.

karya sastra misalnya novel, begitu banyak novel yang alur ceritanya menceritakan berbagai macam ilmu, baik dalam ilmu sosial, politik, agama, bahkan sejarah. Jadi karya sastra adalah sastra interdisipliner, dimana suatu karya sastra mengkaji tidak hanya dengan satu ilmu saja dalam memecahkan masalah dalam alurnya. Dalam novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer, potret kehidupan manusia yang diceritakan kondisi sosial kehidupan masyarakat pesisir dan priyai yang begitu berbeda, juga ilmu disiplin agamanya juga diunggulkan dalam alur nover tersebut dimana seorang priyai yang begitu mendalam ilmu agamanya daripada seorang pesisir, akan tetapi tidak kalah bedanya dengan binatang dalam memperlakukan manusia. Ilmu disiplin gender dalam novel tersebut sangat kental, juga dalam novel Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur karya Muhiddin M Dahlan. Dalam novel tersebut pengarang menggambarkan masalah sosial tentang perempuan, dimana mengalami ketidak percayaan adanya Tuhan dalam agamanya, adanya ketidakadilaan gender, dan gambaran orang atas seperti dosen, DPR yang melakukan “sesuatu” dengan perempuan selain istrinya. Juga novel berjudul “Perempuan Di Titik Nol Karya Nawal el-Saadawi”Setelah dilakukan penelitian terhadapa novel dengan cara dianalisis, hasil kesimpulannya yaitu 1) Tokoh laki-laki dalam novel ini mempunyai karakter cendering berkuasa dalam segala aspek kehidupan terutama menguasai perempuan banyak ketidakadilan yang dialami oleh perempuan.Tokoh perempuannya cenderung lemah sehingga mereka dengan mudah dikuasai dan ditindas oleh kaum laki-laki dan akhirnya mereka tidak percaya lagi dengan laki-laki dan ingin hidup bebas , mereka merasa ikatan rumahtangga merupakan perbudakan  bagi kaum perempuan. konflik dalam novel ini terjadi anatar laki-laki dan perempuan dikarenakan kekuasaan laki-laki terhadap perempuan dan pada akhirnya perempuan kehilangan kepercayaan terhadap laki-laki.

Dalam pendidikan ruang lingkup mata pelajaran Sastra Indonesia di tingkat SMA terdiri atas aspek pengetahuan kesastraan dan apresiasi sastra. Pengetahuan sastra lekat dengan faktor yang bersifat informatif, sedangkan kegiatan apresiasi sastra mencakup dua faktor yang lebih kompleks, yang bersifat reseptif dan produktif. Keduanya berhubungan dengan empat keterampilan berbahasa yaitu: mendengarkan, berbicara, membaca, menulis. Hanya saja sangat disayangkan dalam pembelajaran sastra peserta didik minim sekali melakukan apresiasi dalam karya sastra. Pendidik kurang fokus dalam apresiasi sastra, padahal dalam mengapresiasi satra dapat membantu kreativitas peserta didik dalam menciptakan suatu karya bahkan dalam sastra interdisiplin dengan ilmu-ilmu yang ia miliki. Materi yang dipelajari pun meliputi berbagai macam genre, baik yang bersifat modern maupun klasik. Tujuan pengajaran sastra sebenarnya memiliki dua sasaran, yaitu agar siswa memperoleh pengetahuan dan pengalaman sastra. Pertama, pengetahuan sastra diperoleh dengan membaca teori, sejarah, dan kritik sastra. Kedua, pengalaman sastra dengan cara membaca, melihat pertunjukan karya sastra, dan menulis karya sastra. Dalam kurikulum IB (International Bacalaureatte) program Diploma, bahkan dicantumkan karya sastra terjemahan (literatur dunia-world literature) sebagai daftar bacaan wajib. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran sastra dan kegiatan apresiasi sastra merupakan pelajaran yang besar manfaatnya. Selain aspek kognitif, apresiasi sastra dapat meningkatkan keterampilan berpikir tingkat tinggi (analitis, sintesis dan kreatif) serta meningkatkan aspek afektif dengan cara membentuk sifat-sifat mulia pada diri peserta didik, seperti: kearifan, kesantunan, kerendah-hatian, keadilan dan kepedulian pada nasib sesama; serta mewariskan nilai-nilai luhur budaya bangsa untuk membentuk jati diri siswa sekaligus jati diri bangsa; menumbuhkan sikap apresiatif serta minat baca terhadap karya sastra. Sayangnya, pada prakteknya di lapangan, pembelajaran sastra lebih difokuskan pada aspek pengetahuan kesastraan daripada apresiasi sastra.


Alfiyah Hasanah

Mahasiswa Magister Pascasarjana UNISMA

Komentar